Karya : I Gde Wahyu Suardiatmika Di suatu kerajaan ada seorang kakek yang memiliki 3 cucu, kakek dan cucunya hidup penuh dengan kekur...
Karya : I Gde Wahyu Suardiatmika
Di suatu kerajaan ada seorang kakek yang memiliki 3 cucu, kakek dan cucunya hidup penuh dengan kekurangan, makan juga tidak teratur kadang sehari sekali bahkan tidak makan sama sekali.
Tetapi anehnya banyak sekali masyarakat yang tidak peduli dengan kondisi kakek, apa daya semua orang makan daging, nasi, dan lainnya sedangkan kakek hanya bisa mengandalkan alam, apa yang ada di alam itu yang ia makan.
Suatu hari kakek pergi ke hutan untuk berburu, ia melihat ada seekor rusa yang sedang menikmati lezatnya rerumputan, si kakek tersebut langsung meluncurkan tombak runcingnya tapi sayang tembakannya hanya mengenai kaki rusa dan rusa tersebut lari.
Kakek tersebut tidak pata hati demi mendapatkan sesuap daging untuk makan siang, si kakek tersebut mengejar rusa dengan cara mengikuti jejak darah rusa yang bercucuran terkena tombak si kakek.
Tanpa mengenal usia kakek itu terus mengejar tanpa putus asa sedikitpun usia bukan alasan untuk terus berjuang. Akhirnya kakek tersebut berhenti di suatu hutan, yang dipenuhi dengan pohon pisang yang sudah matang, kakek tersebut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang diberikan.
Akhirnya kakek tersebut mengambil 2 sisir pisang walaupun ada 100 tandan pisang, tetapi kakek tersebut tidak rakus dia hanya mengambil 2 sisir saja sudah cukup untuk dia dan cucunya.
Tetapi, semua itu berakhir tragis si kakek ternyata mengambil pisang dari kebun salah seorang warga, wargapun berdatangan dan menuduh kakek sebagai pencuri, Seluruh warga desa menyeret kakek tersebut ke pengadilan kerajaan.
PAK Hakim! KAMI MENEMUKAN PENCURI PISANG PELAKUNYA ADALAH SEORANG KAKEK-KAKEK. Saya mohon hukum pencuri ini seberat-beratnya
Pak hakimpun kaget dan bertanya pada kakek ''kenapa kakek mencuri pisang tersebut ?''
''saya tidak mencuri pak saya hanya pergi kehutan mencari buruan lalau saya mengejar rusa tersebut dan saya berhenti di sebuah kebun pisang, saya sama sekali tidak tahu kalau itu kebun pisang warga karena kebun itu tidak terawat dan banyak tumbuhan liar saya dan cucu saya sangat kelaparan pak hakim maafkan saya'' kata kakek sambil menangis sedih.
Namun Warga desa menolak kalau kakek ini dibebsakan, kakek ini harus dihukum karena mencuri.
Hakim pun menangis saat menjatuhkan vonis kepada kakek tua yang tak berdaya. ''Maafkan saya kek'' kata hakim sambil menetaskan air mata, karena hukum adalah hukum harus ditegakan saya karena kesalahan kakek ini tidak tercantum dalam undang-udang jadi saya membuat hukum baru''
Saya mendenda Kakek sebesar 100 koin emas dan jika kakek tidak sanggup membayar denda maka kakek akan di penjara bawah tanah selama 2 tahun.
Hati kakek langsung sedih sekaligus hancur, ''saya hanya warga miskin yang tak berdaya pak jadi silahkan penjarakan saya'' kata kakek dengan nada pasrah.
Lalu hakim mengeluarkan 1 kantong emas berjumlah 50 koin emas untuk si kakek.
''Saya juga akan menjatuhkan hukuman keapada seluruh warga desa yang hanya menjadi saksi bisu telah membiarkan kakek ini kelaparan, apakah hati kalian seperti batu ? saya denda seluruh warga desa sebesar 10 koin emas perorang'' kata hakim dengan nada tegas.
Akhirnya palu diketuk dan hakim meninggalkan ruangan sidang, para wargapun langsung malu dengan dirinya sendiri bagaimana bisa kita sebagai umat manusia ? hanya bisa melihat kakek yang tak berdaya bukan mencoba untuk membantunya malah ingin menjatuhkannya.
Wargapun meminta maaf pada kakek dan kakek bisa membayar denda dan membawa 1000 koin emas, kakek tersebut tidak menggunakan koin tersebut untuk keperluannya sendiri melainkan kakek tersebut membangun yayasan ''Peduli Bersama'' yang bekerjasama dengan pihak kerajaan.
Semoga cerita tersebut bisa menginspirasi kita semua bahwa jangan pernah menghakimi seseorang yang tidak berdaya dan memberi hukuman berat sedangkan para koruptor yang masih bebas berkeliaran diberi hukuman ringan, karena pekerjaan dibutuhkan kejujuran, keihklasan dan hati nurani kita.
#cerita ini hanya rekayasa semata bila ada kesamaan mungkin hanya kebetulan dan cerita ini saya buat karena terinspirasi dari hukum yang ada di Indonesia ini.

